Dr.H. Munandi Saleh, S.IP., M.Si.
Oleh MUNANDI SALEH,
9
12
Oleh MUNANDI SALEH,
Mata kuliah ini memberi bekal kepada mahasiswa untuk menguasai pengetahuan filsafat, macam-macam pengetahuan yang dimiliki manusia, aspek ontologis, epistemologis dan axiologis ilmu. Perbedaan dan persamaan antara ilmu : ilmu, agama dan filsafat. Memahami kriteria dan teori kebenaran ilmiah serta syarat-syarat ilmiah. Beberapa cara mendapatkan pengetahuan ilmiah. Khasanah ilmiah seperti : teori, hokum, postulat, dalil, aksioma. Metode ilmiah dan sarana berfikir ilmiah seperti: Bahasa, matematika, statistika. Hubungan ilmu dengan moral. Apakah ilmu harus bebas nilai ataukah ilmu terikat dengan nilai. Sejarah perkembangan ilmu yang melanggar nilai moral
FILSAFAT ILMU (MENJADI MANUSIA ULUL ALBAB)[1]
Sejak manusia berpikir dan bertanya-tanya tentang dirinya, sejak itulah filsafat adanya. Namun, filsafat sebagai ilmu, berkembang secara evolutif. Filsafat merupakan ilmu yang paling tua, disebabkan ilmu filsafat merupakan dasar dari segala dasar berpikir yang membutuhkan pemecahan dari pertanyaan dan persoalan hidup di dalam olah pikir manusia, di mana lantas melahirkan berbagai cabang ilmu.
Pengetahuan dimulai dengan rasa ingin tahu, kepastian dimulai dengan rasa ragu-ragu sedangkan filsafat dimulai dengan kedua-duanya. Jadi berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah tahu dan apa yang belum tahu, berfilsafat berarti rendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam kemestaan yang seakan tak terbatas. Demikian juga berfilsafat berarti mengoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau.[2]
Filsafat menyentuh berbagai dimensi hidup manusia, keterbukaan total terhadap realitas hidup, kejujuran hati dan merefleksikan suasana jiwa yang tentram dan damai atas dasar gerak hidup berdasarkan perilaku Sunatulloh (hukum-hukum Allah) di alam semesta dan dalam diri manusia sebagai pribadi dan sosial-masyarakat tempat kehidupan manusia berinteraksi dengan sesama manusia dan lingkungannya.
Filsafat adalah istilah yang diterapkan dalam hampir semua bidang kehidupan. Beberapa pertanyaan mungkin mengungkapkan sikap umum ini: apa filosofi bisnis Anda? Apa filosofi perbankan? Apa filosofi Anda mengendarai mobil? Atau filosofi Anda tentang penggunaan uang? Pertanyaan-pertanyaan ini menggambarkan bahwa filsafat sangat memengaruhi seluruh aspek kehidupan kita. Inilah filsafat deskriptif, filsafat yang berusaha menggambarkan fungsi, tujuan, dan alasan keberadaan seseorang atau orientasi manusia terhadap “sesuatu”.
Dalam sains modern, tidak hanya terjadi akumulasi pengetahuan baru yang sangat cepat; teknik, metode, dan gaya berpikir juga telah banyak berubah dan terus berubah. Karena itu semakin tinggi pula tuntutan terhadap daya guna filsafat pada pemikiran teoretis secara umum. Di sini, terlihat bahwa, filosofi sains berkaitan dengan pemikiran tentang sains dalam perilaku yang digambarkan sebagai metafisika, epistemologis, etis, logis, dan estetis. Akibatnya, tidak salah juga, jika filsafat sains dapat dipahami sebagai pemeriksaan kritis terhadap asumsi, praktik, dan implikasi sains. Misalnya, minat filosofi sains untuk mencari jawaban atas pertanyaan seperti “apa itu sains?”, “Apa itu hukum ilmiah?”, dan “Apa tujuan sains?”.[3]
Filsafat ilmu sebagai cabang filsafat yang merefleksikan radikal dan integral mengenai hakikat ilmu pengetahuan itu sendiri ; dan merupakan penerusan dalam pengembangan filsafat pengetahuan (epistemologi) sebab pengetahuan ilmiah tidak lain adalah a higher level dalam perangkat pengetahuan manusia dalam arti umum sebagaimana diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.[4]
Filsafat ilmu adalah cabang pemikiran filsafat yang menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Materi dasar yang dipelajari adalah dasar-dasar filsafat, asumsi dan implikasi dari ilmu, baik lain ilmu alam, ilmu sosial maupun ilmu humaniora. Dalam kuliah ini, ilmu yang menjadi fokus perhatian kita adalah ilmu seni. Artinya ilmu yang objek material sebagai sasarannya adalah seni. Setiap ilmu, selalu berkenaan dengan bidang epistemologi dan ontologi. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang berkaitan dengan teori pengetahuan, yaitu hakikat tentang pengetahuan, justifikasi, dan rasionalitas keyakinan akan kebenaran. Jadi, filsafat ilmu berusaha menjelaskan masalah-masalah seperti: pernyataan tentang konsep apa dan bagaimana yang disebut ilmiah, bagaimana konsep tersebut dilahirkan, bagaimana ilmu dapat menjelaskan, memperkirakan serta memanfaatkan kebenaran terhadap fenomena alamiah secara meyakinkan, bagaimana ilmuwan atau peneliti ilmiah dapat menentukan validitas dari informasi; basis rasional dalam memformulasikan dan menggunakan metode ilmiah; macam-macam penalaran yang dapat digunakan untuk mendapatkan kesimpulan; serta implikasi metode dan model ilmiah terhadap masyarakat dan terhadap ilmu pengetahuan itu sendiri.
Win Usuluddin Bernadien menuliskan pendapatnya:[5]
Hampir setiap manusia dapat dikatakan sebagai seorang filsuf, artinya bahwa setiap orang i tu mempunyai filsafatnya sendiri-sendiri. Setiap diri yang berkesadaran tentu mempunyai pandangan khas terhadap alam semesta. Oleh karena itu, maka filsafat sering diartikan sebagai usaha manusi yang gigih untuk dapat membuat hidup ini sedapat mungkin dapat dipahami dan bermakna. Pengertian filsafat yang demikian ini sering kita dapati, misalnya filsafat seorang pahlawan rawe-rawe rantas malang-malang putung
Jujun S. Suriasumantri menyebutkan pendapatnya:[6]
Seorang yang berfilsafat dapat diumpamakan seorang yang berpijak di bumi sedang tengadah ke bintang-bintang. Dia mengetahui hakikat dirinya dalam kesemestaan galaksi. Atau seorang yang berdiri di puncak tinggi, memandang ngarai dan lembah di bawahnya. Dia ingin menyimak kehadirannya dengan kesemestaan yang ditatapnya. Karakteristik berpikir filsafat yang pertama adalah sifat menyeluruh. Seorang ilmuwan tidak puas lagi mengenal ilmu hanya dari segi pandang ilmu itu sendiri. Dia melihat hakikat ilmu dalam konstelasi pengetahuan yang lainnya. Dia ingin tahu kaitan ilmu dengan moral. Kaitan ilmu dengan agama. Dia ingin yakin apakah ilmu itu membawa kebahagiaan kepada dirinya.
Sebagian orang merasa asing dengan istilah filsafat. Bagi mereka, kini, filsafat seakan-akan menjadi ilmu yang hanya dipelajari di kampus-kampus. Kondisi ini diperparah dengan adanya banyak stigma negatif yang dilekatkan pada filsafat, membuat banyak orang enggan untuk mempelajarinya.
Juga, terdapat pandangan bahwa filsafat adalah ilmu yang bersifat eksklusif. Kata eksklusif ini, berarti filsafat hanya dipelajari orang-orang tertentu saja.Selain itu, filsafat juga sering dipandang sebagai ilmu teoritis. Ia penuh dengan bahasa akademis yang ndakik-ndakik, dan tidak memiliki relevansi dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan buku ini, Oleh MUNANDI SALEH, pandangan dan stigma negatif terhadap filsafat berusaha digerus. Melalui buku Sebelum Filsafat, ia berusaha memperkenalkan filsafat kepada publik, dan menjawab berbagai tudingan dan kesalahpahaman yang kerap dilontarkan terhadap induk dari segala ilmu ini.
Semua manusia terlibat dengan pengetahuan sejauh ia hidup secara normal dengan perangkat inderawi yang dimilikinya, namun tidak semua orang terlibat dalam aktivitas ilmiah, karena ada prasyarat yang harus dimiliki seorang ilmuwan. Prasyarat itu menurut Rizal Mustansyir dan Misnal Munir antara lain :[7]
Pertama, prosedur ilmiah yang harus dipenuhi agar hasil kerja ilmiah itu diakui oleh para ilmuwan lainnya. Kedua, metode ilmiah yang dipergunakan, sehingga kesimpulan atau hasil temuan ilmiah dapat diterima, terutama bidang ilmu yang sejenis. Ketiga, diakui secara akademis karena gelar dan pendidikan formal yang ditempuhnya. Keempat, ilmuwan harus memiliki kejujuran ilmiah sehingga tidak mengklaim hasil temuan ilmuwan lain sebagai miliknya. Kelima, ilmuawan yang baik juga harus mempunyai rasa ingin tahu (curiosity) yang besar.
Jerome R. Ravertz menyebutkan :[8]
Sebagai suatu disiplin, filsafat ilmu pertama-tama berusaha menjelaskan unsure-unsur yang terlibat dalam proses penelitian ilmiah, yaitu prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola argument, metode penyajian dan perhitungan, prandaian-prandaian metafisik dan seterusnya. Kemudian mengevaluasi dasar-dasar validitasnya berdasarkan sudut pandang logika formal, metodologi praktis dan metafisika. Dalam bentuk kontemporer fisafat ilmu kemudian menjadi suatu topik bagi analisis dan diskusi eksplisit yang setara dengan cabang-cabang filsafat lainnya, yaitu etika, logika dan epistemologi (teori pengetahuan).
Selanjutnya, objek formal filsafat ilmu adalah hakikat ilmu pengetahuan, artinya ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan. Menurut Ali Mudhofir, ada tiga jenis persoalan filsafat yang utama, yaitu :[9]
Persoalan tentang keberadaan (being) atau eksistensi (existence) bersangkutan dengan cabang filsafat metafisika; Persoalan tentang pengetahuan (knowledge) atau kebenaran (truth). Pengetahuan ditinjau dari segi isinya bersngkutan dengan filsafat epistemologi, sedangkan kebenaran ditinjau dari segi bentuknya bersangkutan dengan cabang filsafat logika. Persoalan tentang nilai-nilai (values), dibedakan menjadi dua, nilai-nilai kebaikan tingkah laku dan nilai-nilai keindahan. Nilai-nilai kebaikan tingkah laku bersangkutan dengan cabang filsafat etika dan nilai-nilai keindahan bersangkutan dengan cabang filsafat estetika.